Pembukaan: Ketertarikan terhadap Berita Terkini
Sejak kecil, saya selalu menyukai berita. Saya ingat, saat berusia 10 tahun, saya duduk di depan televisi setiap pagi dengan semangkuk sereal, menunggu berita pagi yang dibawakan oleh pembawa acara favorit saya. Bagi saya, berita adalah jendela menuju dunia yang lebih besar. Namun, seiring bertambahnya usia dan kesibukan yang datang dalam hidup, ketertarikan itu mulai pudar. Perlahan-lahan, saya mulai mengabaikan berita terkini.
Perubahan yang Nyata dan Awal Kesadaran
Ketika memasuki tahun kedua bekerja di sebuah perusahaan start-up di Jakarta, rutinitas harian saya menjadi sangat sibuk. Pagi hari dipenuhi dengan rapat-rapat penting dan tugas-tugas yang menumpuk hingga sore tiba. Berita pun terpinggirkan dalam daftar prioritas; rasanya terlalu membingungkan untuk mengikuti semua informasi yang terus berkembang.
Saat itu juga terjadi pergeseran besar dalam cara orang mengonsumsi berita. Media sosial menjadi platform utama bagi banyak orang untuk mendapatkan informasi terkini. Saya sering mendengar kolega berdiskusi tentang isu-isu hangat—dari politik hingga tren kesehatan—sementara saya hanya bisa tersenyum sambil berpura-pura memahami apa yang mereka bicarakan.
Konflik Internal: Merasa Terkucilkan dan Terasing
Meskipun merasa tidak terhubung dengan dunia luar, ada momen ketika rasa ingin tahu itu kembali muncul ke permukaan. Misalnya, ketika rekan kerja mendiskusikan tentang perkembangan terbaru COVID-19 atau krisis iklim global; terbersit keraguan dalam diri apakah sikap acuh tak acuh ini benar-benar sehat bagi mental maupun pengetahuan saya.
Saya ingat suatu sore di bulan Januari 2023 ketika seorang teman lama menelepon untuk menjelaskan betapa pentingnya menjaga kesehatan fisik selama pandemi ini—termasuk memberi perhatian lebih pada pemenuhan gizi seimbang dari sumber terpercaya seperti nutrirsalud. Saya menyadari bahwa kurangnya pengetahuan tentang isu-isu tersebut bukan hanya membuat saya tertinggal dalam pembicaraan santai tetapi juga berpengaruh pada pandangan hidup secara keseluruhan.
Pencarian Kembali: Membangun Kebiasaan Baru
Tidak mau terus-menerus merasa terasing di lingkungan kerja dan pertemanan social media ini, akhirnya saya memutuskan untuk mencari cara agar bisa kembali up-to-date tanpa harus merasa kewalahan. Saya mulai memilih beberapa aplikasi berita yang bisa memberikan ringkasan harian dengan tampilan sederhana sehingga tidak memakan waktu lama untuk membacanya.
Bersama dengan aplikasi tersebut, setiap pagi sebelum memulai aktivitas kerja—saya meluangkan waktu 15 menit untuk membaca headline dan artikel pendek dari berbagai sumber terpercaya. Ini mengubah cara pandang saya terhadap informasi; bukan sekadar konsumsi pasif tetapi interaksi aktif dengan isu-isu terkini.
Hasil Akhir: Menemukan Keseimbangan Baru dalam Kehidupan
Akhirnya setelah beberapa bulan menjalani kebiasaan baru ini, sesuatu berubah dalam diri saya. Tidak hanya rasa percaya diri saat berdiskusi semakin meningkat; pengetahuan akan isu terkini membuka jalan bagi perspektif baru dalam mengambil keputusan baik pribadi maupun profesional.
Kini ketika berbicara mengenai masalah sosial atau teknologi baru kepada rekan-rekan kerja atau keluarga tidak lagi membuat jantung berdebar karena ketidaktahuan—justru memberikan kepuasan tersendiri melihat bagaimana diskusi dapat berkembang dari sudut pandang berbeda berdasarkan fakta terbaru.
Kesimpulan: Pentingnya Mengikuti Berita Terkini
Dari perjalanan ini, satu hal yang jelas: mengabaikan berita terkini membawa konsekuensi signifikan terhadap konektivitas kita sebagai individu dan anggota masyarakat luas. Informasi adalah kekuatan; ia mampu membuka mata kita terhadap realitas dunia serta membentuk pola pikir kritis.
Saya ingin berbagi pengalaman ini sebagai pengingat bahwa sekalipun kehidupan kian sibuk meraih kesuksesan pribadi atau profesional—menjaga perhatian terhadap dunia luar tetap krusial agar kita tidak kehilangan arah atau bahkan tersesat jauh dari kenyataan sosial sekitar kita.